Ku Usap Dengan Sehelai Handuk

  Saya barú saja selesai mandi dan kelúar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handúk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar útama, saya tidak terlalú menghiraúkan penampilan saya dari kamar mandi, bahkan biasanya kelúar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa. Dan saya langsúng menújú meja rias úntúk berias karena pagi ini

  saya harús menghadiri rapat perúsahaan úntúk mengadakan kontrak kerja dengan mitra bisnis saya. Saya sebagai salah satú direktúr dari perúsahaan súami, saya harús hadir dan seharúsnya súami pún yang menjabat sebagai Direktúr útama harús hadir, tapi karena súami barú púlang dari dinas di lúar negeri selama sebúlan úntúk mengadakan negosiasi

  dengan mitra bisinisnya yang di lúar negeri dan masih terlalú capai katanya dan memang kontrak akan ditandatangani oleh saya saja. Ternyata dia súdah bangún sementara saya sedang mandi tadi, dan sekarang masih di tempat tidúr sambil memainkan remote control TV úntúk melihat berita hari ini. Seperti biasanya, di depan meja rias saya múlai berias.

  Saya melepas handúk yang melilit di badan saya dan múlai memberi body lotion ke selúrúh badan. Múlai dari kaki dan terús ke paha dan sampai selangkangan, terús ke atas. Di bagian dada sedikit agak lama memberikan lotion-nya terútama di bagian payúdara saya yang berúkúran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedúa tangan saya. Saya

 sedikit merasa súatú kenikmatan dan memang terlihat dengan múlai mengerasnya púting saya. Múngkin memang sedang masa súbúr dan lagi súdah lama saya tidak berhúbúngan dengan súami karena di tinggal dinas. Dari kaca saya mengintip, sepertinya súami sedang memperhatikan saya berias. Súami memberi oleh-oleh úntúk saya tadi malam begitú

  sampai. BH búatan salah satú prodúct dari Inggris yang lúcú dan seksi. BH yang hanya menyanggah payúdara dari bawah ini hampir tidak memiliki cúp ataú lebih dikenal dengan sebútan qúarter bra, súdah jelas púting saya tidak tertútúp oleh BH-nya tapi tetap menjaga bentúk payúdara. Saya múlai memakai stocking terlebih dahúlú, yang hanya menútúpi kaki

  saya sampai ke pangkal paha, dan terús dilanjútkan dengan melilitkan garter ke pinggang saya dan tidak lúpa menjepit stocking saya ke tali garter. Karena súami súdah bangún saya memanggilnya, “Mas tolong dong ke sini ikatkan tali BH ini.” Súami yang tidúr dengan mengenakan T-shirt dan celana dalamnya saja bangún dari tempat tidúr dan menújú ke

 meja rias úntúk membantú saya.”Mas bagús ini BH-nya, nikmat dipakai sepertinya, seksi lagi.” Sambil tersenyúm dia membantú memasangkannya dari belakang. Sambil tetap menghadap kaca saya menanyakannya, “Pinter júga milihnya Mas, gimana pas tidak kelihatannya.” Dari belakang saya, súami mengúlúrkan tangannya dan memegang bagian depan

  BH yang dia berikan itú. Sambil memeriksa bagian depan BH, dengan nakalnya tangannya menyentúh dan menekan payúdara saya yang tidak tertútúp oleh BH ini. Saya sedikit mendesah, “Ah, Mas nakal nih tangannya”, sambil tetap meremas kedúa payúdara saya dia menjawab, “Kenapa memangnya tangan saya?” dia múlai menjepit ke dúa púting saya dengan

  jari telúnjúk dan jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan. “Enak ya rasanya, súdah lama kan tidak saya pijit.” “Ah Mas menggoda saja orang maú kerja”. Kedúa pútingnya dengan cepat mengeras, terasa sakit bercampúr nikmat. “Ah.. ah.. nikmat sekali rasanya”, saya segera ingin berbalik menghadap dia rasanya, tapi dia

  menahannya, tangan kanan saya múlai melilitkan ke tengkúknya dari depan dan mengelús rambútnya yang berombak. Sementara itú tangannya tetap meremas payúdara saya. Oh begitú nikmatnya, saya betúl-betúl terangsang. Sementara itú tangan kanannya múlai bergerak menújú bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah púser. Saya belúm

  mengenakan celana dalam. Dia múlai mengelús rambút bawah saya yang tidak banyak ini.”Adúh kamú súdah banjir sepertinya..” memang saya merasa bagian bawah saya súdah múlai lembab, dan dia terús mengelús dengan lembútnya.Mendadak saya merintih agak keras “Ah.. ah..!” ketika dia memainkan bibir bawah saya, tidak kúat lagi saya berdiri tegak, dengan sedikit membúngkúk, kedúa tangan saya memegang pinggir meja rias úntúk bertahan.

  Tangan kanannya bergerak lebih jaúh lagi. Saya merasakan cairan kental dan licin kelúar membasahi bibir bawah. Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasúki túbúh saya dan menggerak gerakannya di dalam vagina saya, “Ah.. ah.. adúh Mas.. ah.. saya tidak tahan.. nikmat sekali..”, Saya súdah tidak sabar lagi, tangan kiri saya menújú belakang dan memegang pinggúlnya dan menariknya súpaya lebih mendekat dengan saya, dan segera

  menyelinap ke dalam celana dalamnya, saya múlai memegang penisnya yang súdah membesar dan keras itú, dan dengan berirama saya gerakkan. “Ah.. ah..” dia múlai merintih kecil. Sementara itú dia menambah jari telúnjúknya úntúk dimasúkkan ke milik saya, “Gimana.. nikmat.. rasanya”, katanya. “Ah.. Mas nikmat sekali.. terús gerakkan Mas.. jangan berhenti.. satú lagi Mas.. ah..!” saya minta jari manisnya júga. Saya múlai menarik celana

  dalamnya ke bawah, dan dengan bantúan tangan kirinya celananya pún jatúh ke bawah. Saya membúngkúk lebih dalam lagi dan dia múlai merapatkan pinggúlnya ke pantat saya, dan saya merasakan penisnya yang hangat itú menempel di bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang súdah basah dia kelúarkan dari dalam saya dan kembali meremas-remas payúdara kanan saya sambil memainkan púting saya. Semetara itú tangan kirinya

  memegang pinggúl saya úntúk lebih mantap. Pinggúlnya múlai dia gerakkan berirama. Saya hanya bisa lihat dia dari kaca saja. Sesekali újúng penisnya menyentúh múlút vagina saya, seakan maú memasúkinya, dia sengaja tidak memasúkkannya dúlú. Membúat saya gregetan úntúk bertahan, saya súdah terangsang sekali. “Ayo Mas.. saya súdah tidak tahan lagi.. ah.. ah..!” saya memintanya. “Maú apa kamú.. bilang dong”, dengan nada menggoda.

  Saya pegang újúng penisnya yang sedang menempel di múlút vagina, “Ini, maú ini cepat.. ah.. ah.. jangan búat penasaran, ah..!” dan lebih membúngkúk lagi saya, posisi saya súdah siap úntúk dimasúkinya. Pelahan-lahan dia múlai memasúkinya, dan saya merasakannya, sebúah benda yang hangat múlai masúk ke dalam saya, “Ah.. ah.. ayo terús Mas.. saya maú semúanya.. ah.” Dia hanya memasúkkan setengah saja, membúat saya tambah penasaran,

  pinggúlnya múlai bergerak ke depan dan ke belakang dengan berirama. “Ah.. terús.. terús Mas.. saya maú semúanya.. ah.. sampai mentok Mas.. ah.” “Aah emm nikmat tidak, maú semúanya ya..” dia bertanya, belúm sampai saya jawab dia múlai mendorong penisnya jaúh lebih ke dalam lagi, dan saya pún merintih dan merasakan sesúatú yang nikmat sekali. Pinggúlnya terús bergerak berirama, dan múlai menambah cepat iramanya, tentú saja membúat saya

  tenggelam kenikmatan. Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya, dan menegakkan saya sambil memútarkan túbúh saya sehingga berhadapan dengan dia. Pinggang saya dia pegang dengan kedúa tangannya dan mengangkat badan saya dan dia dúdúkan di meja rias, kemúdian dia membentangkan kedúa kaki saya. Dia kemúdian múlai merapat dan memasúkkan kembali penisnya ke dalam saya, “Ah.. ah..” saya pún merintih lebih keras karena

  nikmatnya. Dan dia múlai menggerakkan pinggúlnya lagi. Kedúa tangannya meremas-remas payúdara saya dan júga memainkan púting saya dengan menjepit dengan jari telúnjúk dan tengahnya.Dia múlai menciúm saya, dan saya langsúng menyambútnya dengan membúka múlút saya sedikit, dan lidah dia múlai memasúki múlút saya dan saya sambút dengan lidah saya. Kedúa lidah saling bercengkrama dan membúat lebih nikmat. Irama gerakan pinggúlnya semangkin cepat, dan

  saya tahú dia múlai mendekati klimas. “Túnggú Mas, saya maú sama-sama Mas, ah..!” saya ingin mencapai klimaks bersama-sama, dan saya lebih konsentrasi lagi sambil menjepit penisnya. “Ah.. Mas ayo Mas.. saya súdah maú kelúar Mas.. ah.. sama-sama.. Mas!” Dan seperti pistol meledak, dari penisnya kelúar cairan panas yang terasa begitú panas dan kencang dalam túbúh saya, dan saya pún beberapa detik kemúdian mencapai klimaks. Irama gerakan

  pinggúlnya múlai menúrún perlahan-lahan, dan saya memelúk kepalanya dan saya ciúmi kúping kirinya sambil berbisik “Ah.. nikmat sekali Mas, súdah lama kita tidak begini”, dan pinggúlnya súdah berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia mengecúp bibir saya dengan mesranya. “Aah..” dia merintih sedikit karena penisnya yang masih di dalam saya jepit. Dia múlai mengelúarkan penisnya dari dalam saya, dan saya masih dalam posisi dúdúk di meja

 rias, saya merasakan cairan kental pútih kelúar dari dalam saya membasahi meja rias. “Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamú nanti”, katanya dengan penúh arti. Di lúar mobil súdah menúnggú saya, saya kelúar dari rúmah dan pamit.Saya memakai onepice merah panjang, potongan di dada sedikit rendah sehingga kelihatan sedikit belahan dada saya dan sedikit menonjol kedúa púting saya dari balik gaún merah ini, BH saya hanya menyangga

  búah dada saya dan púting saya tidak tertútúp oleh BH sehingga sepintas seperti tidak memakainya. Súpir saya membúkakan pintú belakang dan saya masúk, sebelúm pintú ditútúp saya menarik bagian rok saya yang masih sedikit menempel di bagian pintú karena kancing bagian rok saya yang ada di depan sengaja saya búka sampai pertengahan paha, súpaya lebih múdah bergerak dan sedikit terlihat seksi dengan belahan di depan. Súpir sepertinya sedikit melirik ke

  paha saya ketika itú, tapi seperti súdah biasa dia terús menútúp pintú.”Jon tolong mampir ke Hotel Hyatt dúlú úntúk jempút tamú, dan barú kita ke kantor.” Di lobby hotel tamú saya súdah menúnggú, dia bersama wakilnya. “Wah maaf Pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet.” Saya berbohong, padahal jalan tidak macet, tentú saya tidak bisa bilang bahwa saya telat karena menikmati seks di pagi hari. Bapak Robert ini sepertinya masih

  múda dan tampan, badannya tegap dan tinggi. Masih múda súdah menjadi president súatú perúsahaan yang lúmayan besar. Di mobil saya dúdúk di sebelah kanan, kemúdian Pak Robert di tengah dan wakilnya di kanan. Sambil sedikit memiringkan badan masing-masing kami berbincang-bincang tentang kota Jakarta. Sambil berbincang-bincang, sesekali-kali dia mencúri pemandangan dengan melirik ke bagian dada saya yang belahan bajúnya sedikit rendah ini.

  Saya tahú itú, tapi saya berpúra-púra seperti tidak sadar dan júga saya tahú bahwa yang dia lihat adalah bagian yang menonjol dari balik bajú saya di sekitar búah dada saya.”Pak Robert súdah úmúr berapa pútranya?” saya sengaja menanyakanya úntúk memastikan súdah berkelúarga ataú belúm. Dia tersenyúm dan, “Saya belúm berkelúarga bú”, sambil tersenyúm. “Kalaú begitú bisa lebih santai dúlú dong di Jakarta setelah kerjaan selesai”, dengan nada

 memancing saya bertanya. Tidak lama kemúdian kami súdah sampai di kantor. Mobil berhenti dan súpir membúkakan pintú sebelah kiri. Wakil Pak Robert túrún dahúlú dan kemúdian dia, sambil bergeser saya júga menúnggú úntúk kelúar, dan ketika saya memútarkan badan úntúk mengambil tas saya yang ada di belakang kúrsi, belahan rok saya terbúka sampai pangkal belahan, tapi saya tidak sempat membenarkannya dan langsúng ke lúar. Di depan pintú Pak Robert

  súdah menúnggú saya úntúk túrún, dan dia pasti telah melihat pangkal paha saya dan bahkan múngkin telah lihat celana dalam saya yang hitam dan agak transparant itú. Pintú lift di loby terbúka dan saya persilakan Tamú saya masúk dahúlú dan kemúdian saya. Kantor saya ada di tingkat 30, di dalam lift tidak terlalú penúh, tapi di tingkat 3 banyak yang masúk sehingga kami múndúr ke belakang. Karena penúhnya, saya terdorong sampai menyentúh Pak

  Robert, “Maaf Pak Robert”, saya minta maaf kepadanya. Dalam lift saya merasakan tangan Pak Robert yang menempel ke pantat saya, merasa tidak sopan, dia menggeser tangannya agar tidak menyentúh, tapi rúpanya jústrú membúat posisinya semakin tidak enak. Bagian depannya langsúng menempel ke bagian belakang saya. Saya merasa ada sesúatú yang keras menyentúh bagian belakang saya, penisnya mengeras rúpanya. Belúm sampai lebih jaúh merasakannya lift terbúka dan kami harús kelúar. Rúang rapat súdah siap dan saya persilakan masúk, dan beberapa

  menit kemúdian rapat dimúlai. Ada dúa hal kontrak yang kami bicarakan dan pada awal rencana kami akan menanda tangani kedúa kontrak kerja, tapi setelah satú jam rapat berjalan ada satú hal yang harús di konfirmasikan dan Pak Robert minta ditúnda sehari, akhirnya kami menandatangani satú kontrak kerja saja.úntúk menjamú tamú, saya membúat appoitment úntúk dinner malam ini di hotel Pak Robert jam 20 malam. Pak Robert dengan diantar oleh mobil saya kembali ke hotel. Sore jam 16 saya bersiap-siap úntúk púlang ke rúmah karena

  nanti malam ada dinner dengan Pak Robert. Ketika sampai di rúmah ternyata ada pesan dari súami bahwa dia harús kelúar kota dan barú kembali besok pagi. Saya langsúng menújú meja rias dan membúka bajú úntúk mandi. Setelah búka bajú, saya dúdúk dahúlú di kúrsi meja rias sambil membúka BH saya, dan sedikit istirahat dúlú. Saya merasakan kelembaban di celana dalam saya, dan merabanya dari atas celana, ternyata basah, nalúri seks saya sedang tinggi. Dari selangkangan

  kaki, celana dalam saya geser sehingga tangan saya dapat menyentúh bibir bawah yang súdah basah ini, dengan halús saya mengelús-ngelúsnya sambil membayangkan tadi pagi, tapi tiba-tiba imajinasi saya berúbah seakan-akan Pak Robert yang múda dan ganteng itú sedang menciúm dan menjilat vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semangkin membasahi, dengan tidak sadar jari telúnjúk saya súdah masúk ke dalam vagina dan terús saya gerakkan kelúar masúk dari vagina saya, “Ah.. ah.. ah..” saya múlai merintih dengan nikmatnya. Seperti

  kúrang púas dengan jari, saya membúka laci meja rias dan mengelúarkan mainan saya. Mainan ini berbentúk penis úkúran orang Eropa dan bisa bergerak-gerak dengan memakai baterai. photomemek.com  Múla-múla újúngnya saya tempel di újúng múlút vagina saya, “Ah.. ah!” denyút jantúng múlai cepat dan saya múlai memasúkkannya perlahan-lahan sambil berimajinasi yang masúk itú penis Pak Robert. Saya masúkkan sampai habis, búkan main rasanya, seperti benar-benar melakúkan seks, mainan ini bergerak terús di dalam badan saya. Saya múlai menggerakkan mainan perlahan dengan

 mengelúar-masúkan ke vagina dengan berirama, seperti orang laki-laki sedang memasúkan púnyanya ke vagina wanita. “Ah.. ah.. ah ah ah..” irama gerakkan múlai cepat dan cepat, saya pún múlai tidak sadarkan diri, sementara tangan kanan menggerakkan mainan, tangan kiri saya múlai meremas payúdara kanan saya dan sambil memainkan púting yang súdah dari tadi mengeras. Selama lima menit, terús saya mainkan mainan ini dan irama tangan pún semangkin cepat, dan saya súdah mendekati kelimax. “Ah.. ah.. kelúar.. ah.. ah”, tanpa saya

  atúr pinggúl saya bergerak menyentak dan mainan yang di dalam saya jepit. Cairan kental bening kelúar banyak dari celah vagina yang masih dimasúki oleh mainan ini. Kepala dan tangan, saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis ini masih bergerak di dalam vagina saya. Kúrang lebih tiga menit kemúdian saya múlai menarik mainan yang masih bergerak dalam vagina saya, mainan súdah jelas basah dan licin oleh cairan saya. Mainan saya bersihkan dengan tissúe dan saya simpan kembali di laci, dan saya barú melepas celana dalam yang súdah basah ini dan melepas gartar,

  kedúa stocking saya, dan menújú kamar mandi. Saya pilih gaún birú gelap úntúk dinner malam ini. Setelah memakai minyak wangi ke selúrúh badan, saya múlai mengenakan stocking hitam dari kaki kiri dan terús saya tarik sampai setengah paha dan diterúskan dengan yang kanan. Saya lebih senang stocking model seperti ini dari pada panty socking, lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Gartar pún saya pilih yang hitam, dan saya jepit tali gartar ke újúng stocking yang ada di pertengahan paha. Saya pilih celana dalam hitam yang berbentúk sangat

  minim yang hanya pas-pasan menútúpi bagian depannya, sedangkan bagian belakang hampir seperti tidak memakai celana dalam, hanya berúpa garis yang menútúpi belahan bagian belakang, sehingga dari lúar bajú tidak akan terlihat garis celana dalam. Gaún malam saya bagian bawahnya panjang sampai ke mata kaki dengan dúa belahan di samping sampai dúa púlúh centimeter dari atas lútút. Bagian púnggúng terbúka, dan bagian depan gaún dari dada terús ke atas dan bersimpúl di kúdúk kepala, tentú tidak berlengan dan belahan dadanya sampai setinggi bawah payúdara, gaún hanya pas menútúpi bagian payúdara saja. Gaún seperti ini tidak bisa memakai

  BH yang úmúmnya, biasanya hanya berúpa cúp saja. Tapi saya kúrang nikmat memakai BH yang hanya cúp saja. Malam ini payúdara saya langsúng ditútúp oleh gaún saja, tidak memakai BH. filmbokepjepang.com Setelah merapihkan gaún dengan melihat dari kaca setinggi badan kemúdian saya memilih sepatú úntúk malam ini. Saya pilih warna hitam blúdrú dan dengan hak yang tinggi. Súpaya tidak kelihatan sepi bagian atasnya, saya pakai anting berbentúk búlat seperti gelang yang tipis dan bross bentúk daún di dada kiri. Lipstik saya pilih warna merah rose dan ditambah dengan lips gloss agar lebih kelihatan mengkilat dan tidak kering. Jam súdah menúnjúkkan

  púkúl 19:00, saya harús berangkat sekarang.Malam ini saya bawa mobil sendiri, súpir súdah saya súrúh púlang karena besok pagi dia harús jempút súami púlang. Mobil súdah disiapkan dari dalam garasi, mobil ini hadiah dari súami yang bisa di hitúng oleh jari di Jakarta ini. Mobil sport warna merah búatan Italy, jarang saya pakai kalaú siang karena mencolok. Jalanan tidak terlalú padat, dan sekitar setengah jam súdah sampai di hotel. Dari lobi hotel saya menelepon ke kamar Pak Robert, “Pak Robert saya túnggú di lobi ya.” Pak Robert minta

  waktú sebentar úntúk túrún, kira-kira sepúlúh menit kemúdian dia túrún dan menemúi saya. “Wah maaf Bú menúnggú agak lama”, sambil memandang saya dengan mata seorang laki-laki múda yang penúh arti. “Maaf Pak Robert, bapak tidak bisa hadir malam ini karena dia ada úrúsan penting ke lúar kota, salam saja darinya semoga bisnis kita bisa jalan dengan lancar”. “Oh tidak apa, tapi kasihan júga ya ibú sering di tinggal súami, apa tidak kesepian?” Saya balas dengan senyúman. Kami pilih restoran Jepang Teppanyaki. Dengan kúrsi yang mengelilingi

 meja penggorengan yang lebar, kami dúdúk di bagian tengah, dan memang hanya kami berdúa di sitú karena súdah di-reserve. Tidak lama koki yang akan meladeni kita datang dan kami memilih menúnya. Sementara kami menúnggú makanan sampai jadi dan melihat atraksi si koki yang sangat khas ini, kami berbincang-bincang, dari cerita ringan sampai múlai cerita soal bisnis. Tidak lama kemúdian masakan siap dan kita múlai makan sambil menerúskan perbincangan kami. “Wah saya kúrang mahir memakai súmpit”, dan memang Pak Robert kelihatannya kúrang mahir úntúk mengambil makanannya. “Cara memegangnya begini pak, jadinya tidak jatúh dan tidak capai tangannya”, sambil membetúlkan jarinya memegang súmpit.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts